Plak! Ketika Masalah Hidup Dilampiaskan pada Ponsel


Pagi itu, dalam perjalanan menuju kantor bersama putri sulung saya, Hana, saya melihat sebuah adegan kecil yang entah mengapa membuat saya tersenyum.

Di pinggir jalan, tepat di seberang halte TransJakarta, berdiri seorang perempuan yang tampak sedang kesal luar biasa.

Tubuhnya tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar 140–150 sentimeter. Rambut bob seleher yang dicat kecokelatan membingkai wajahnya. Kulitnya putih. Wajahnya tertutup masker, tetapi beberapa hal ternyata tidak bisa disembunyikan oleh selembar kain.

Kerutan di dahinya terlihat jelas.

Kelopak matanya menatap nanar ke layar ponsel yang digenggamnya. Entah apa yang sedang terjadi di sana. Mungkin pesannya tidak terkirim. Mungkin aplikasinya tiba-tiba error. Mungkin jaringan internet sedang berulah.

Atau…

Mungkin sebenarnya bukan ponselnya yang bermasalah.

Mungkin pagi tadi memang sedang tidak berpihak kepadanya.

Sesaat kemudian, perempuan itu memukul ponselnya dengan telapak tangan.

Plak!

Saya yang melihat dari motor hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala.

“Astaga, kasihan juga itu HP,” pikir saya.

Benda mati yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba harus menerima kemarahan manusia hanya karena kebetulan sedang berada di tangan orang yang emosinya sudah sampai di ujung tanduk.

Tapi bukankah kita sering begitu?

Ketika hati sedang penuh, yang pertama kali kena terkadang bukan sumber masalahnya.

Bisa pasangan.

Bisa anak.

Bisa teman kerja.

Bisa orang yang kebetulan mengirim pesan di waktu yang salah.

Atau, kalau sedang tidak ada siapa-siapa…

Ya, ponsel pun bisa menjadi korban. Dan ternyata Hana yang sedang mengendarai motor pun juga melihat adegan penganiayaan ponsel tersebut 😂

Saya tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dialami perempuan tersebut pagi itu. Saya bahkan tidak tahu apakah lima menit kemudian ia sudah baik-baik saja atau justru menemukan masalah lain untuk dimarahi.

Saya hanya berharap, apa pun yang sedang membuat dahinya berkerut dan matanya menatap nanar pagi itu, semoga segera menemukan jalan keluar.

Semoga urusannya dipermudah.

Semoga hatinya kembali tenang.

Dan semoga…

ponselnya tidak perlu menerima pukulan berikutnya. 😄

Sebab kadang, ketika kita ingin memukul sesuatu karena hidup terasa begitu menyebalkan, mungkin yang sebenarnya sedang kita butuhkan bukan benda untuk dilampiaskan.

Melainkan jeda.

Menarik napas.

Lalu bertanya pelan kepada diri sendiri:

“Sebenarnya, apa yang sedang membuatku marah?”

Karena bisa jadi…

yang sedang kita hadapi bukan masalah pada benda di tangan.

Melainkan sesuatu yang sudah terlalu lama kita simpan di dalam hati.

Share:

0 comments