 |
| Sumber: Google |
Begitu katanya ....
Benarkah?
Tentu saja, benar.
Seperti apa hidup yang bertumbuh itu?
Hidup Itu Bertumbuh
Jika kita lihat, gambar ini sebagai analogi bahwa hidup itu dapat dikatakan bertumbuh jika terus mengalami perkembangan. Dari akar menjadi tunas dan terus bertumbuh hingga kemudian berbunga atau berbuah dan makin kekar menjulang tinggi.
Berproses dalam Hidup
Itulah yang namanya proses dalam bertumbuhnya kehidupan. Semua hal membutuhkan proses, seperti dalam usaha atau bisnis yang dijalankan oleh masing-masing orang, tentunya membutuhkan proses dari kecil menjadi besar. Dari bibit menjadi tunas, kemudian tumbuh terus dan terus menjadi besar.
Dengan menanamkan bibit, salah satunya niat yang baik, kemudian sirami dengan kesabaran, fokus, dan konsisten, insyaa Allah hasilnya pun akan cantik, atau berbuah ranum dan bukan tidak mungkin akan menggurita seperti halnya akar pohon beringin yang kuat menopang banyak dahan dan tumbuh tinggi menjulang ❤️
Kalau postingan lalu
lebih ke arah spiritual, sekarang mari kita membahas ke ke arah yang juga ada
hubungannya dengan spiritual hehehe ...
Okeh ..., karena sdh beres
anter anak2 + beres cucian, mari menulis sedikit tentang motivasi. Sering
denger yah kata motivasi ? bayangkan betapa mengerikannya jika manusia hidup
tanpa motivasi, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi *bencana* … Lebay hehehe
:D
Kita kenalan dulu,
siapakah kau wahai motivasi ??
Motivasi itu adalah
suatu dorongan yang bisa menggerakkan manusia untuk mencapai tujuan atau apa yang diinginkannya. Dalam
keseharian, siapapun butuh yang namanya motivasi. Dalam berkerja, sekolah, kuliah,
bisnis, sampai ibu rumah tangga pun butuh yang namanya motivasi.
Nah, motivasi di bagi 2
nih yaitu motivasi internal dan motivasi external.
1. Motivasi internal adalah motivasi yang datang
dari dalam diri kita sendiri. Motivasi internal ini sangat kuat karena dating
dari dalam diri kita sendiri dan tidak bisa diganggu gugat atau dipengaruhi
oleh lingkungan.
2. Motivasi external adalah motivasi yang datangnya
dari luar diri kita misalnya lingkungan atau orang lain dan yang jelas motivasi
ini tidak sekuat motivasi internal.
Contoh yaaa… dalam
menjalankan bisnis yang saya pilih ini (ORIFLAME) saya selalu bersemangat dan
berkomitmen untuk tidak akan pernah berhenti. Wuiihhh… kok bisa seyakin itu ?
yup, dikarenakan motivasi internal yang muncul dari dalam diri saya sendiri.
Kemudian motivasi external yang membuat saya terus menerus menjalankan bisnis
ORIFLAME ini adalah karena produk2 nya yang bagus, sistem bisnisnya yang jelas, dukungan club BOSSFAMILY yang semua orang di dalamnya positive, anak – anak , orang tua dan keluarga, karena saya ingin
membuat mereka bahagia dan sejahtera.
Biasanya nih ya, orang
yang bisa memotivasi diri sendiri termasuk orang yang mempunyai mental kuat,
tidak mudah menyerah alias taft. Bukan berarti mereka yang mempunyai “self
motivated” itu tidak pernah mengalami yang namanya down atau galau ya, namun
jika mereka mengalami sebuah kegagalan atau kejadian yang membuat mereka down,
mereka dapat dengan segera bangkit dan kembali melangkah serta tidak berlama –
lama larut dalam kondisi tersebut.
Tapi tapi tapi saya
bukan termasuk orang yang SELF MOTIVATED, gimana dong ?
Bisa lho menjadi orang
yang selalu mempunyai motivasi internal. Cara melatihnya yaaa.. CATET !!! :D
1. Cari lingkungan positif, temen2 positif,
kegiatan positif.
2. Eheemmm…Yang suka bermedsos jangan dibiasain tuh yang
namanya mengumbar kata2 galau. Walaupun pengeeennnn banget nulis, tahaannn yah.
Sebaik2nya tempat curhat itu hanya Tuhan :)
3. Kalo udah suskses poin 1 dan 2 nya, kita akan
bisa yang namanya selalu BERPRASANGKA BAIK. Yuhuuuu…. Itu sehat banget buat
otak dan hati kita hehehe ;)
4. Ini juga penting!! Dalam hidup kita harus
mempunyai tujuan. Yang serius ya tujuannya, jangan yang main – main. Penting
sekali mempunya goal dalam hidup, jadi kita tau apa yang harus kita capai dalam
jangka pendek dan jangka panjang.
5. Daaannn ..., selalu ingat apa sih TUJUAN kita melakukan apa yang
sedang kita lakukan sekarang. Bagus banget jika kita dapat memvisualisasikan nya di kepala atau temple di area yang kita sering liat (DREAM BOARD atau
WISHLIST )
6. Selalu libatkan TUHAN dalam semua kegiatan kita,
karena Dialah Maha Penguasa Segalanya. Jangan pernah lupakan itu.
7. Silakan kalau ada yang mau nambahin lagi atau
sharing tips nya :)
Tuh ya, keliatan deh
jadinya bahwa temennya si MOTIVASI itu adalah ATTITUDE dan POSITIVE THINKING.
Next time akan saya bahas ya mengenai ATTITUDE dan POSITIVE THINKING ini lebih
detail.
Olrait ... siap untuk
menjadi orang yang SELF MOTIVATED ?
Sharing ini dapat tertuang karena pengalaman-pengalaman dalam hidup yang sudah saya rasakan,
Senyum manis dan salam hangat buat semua yang membaca note / artikel dalam blog saya ini, semoga bermanfaat dan membawa
pencerahan serta kebaikan yaaa ... Inshaa Allah.
-Haning Arum S-
Bayangkan Anda sedang menghadiri pesta yang amat meriah. Semua orang tampil dengan pakaian terbaik. Makanan yang dihidangkanpun tampak lezat dan mengundang selera. Saat Anda antre untuk mengambil makanan, tiba-tiba seseorang yang sangat Anda percaya berbisik di telinga Anda, ''Hati-hati, banyak makanan tak halal disini, bahkan ada beberapa yang beracun!''
Saya berani menjamin Anda akan mengurungkan niat mengambil makanan. Boleh jadi Anda pun langsung pulang ke rumah. Anda benar, hanya orang bodohlah yang mau menyantap makanan tersebut. Kita tak mau makan sembarangan. Kita sangat peduli pada kesehatan kita.
Anehnya, kita sering -- bahkan dengan sengaja -- memasukkan ''makanan-makanan beracun'' ke dalam pikiran kita. Kita tak sadar bahwa inilah sumber penderitaan kita. Salah satu makanan yang paling berbahaya tersebut bernama: ketidakmauan kita untuk memaafkan orang lain!
Ketidakmauan memaafkan adalah penyakit berbahaya yang menggerogoti kebahagiaan kita. Kita sering menyimpan amarah. Kita marah karena dunia berjalan tak sesuai dengan kemauan kita. Kita marah karena pasangan, anak, orang tua, atasan, bawahan, dan rekan kerja, tak melakukan apa yang kita inginkan. Lebih parah lagi, kita memendam kemarahan ini berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.
Memang banyak sekali kejadian yang memancing emosi kita. Pengendara motor yang memaki kita, mobil yang menyalib dan hampir membuat kita celaka, orang yang membobol ATM kita, politisi yang hanya memperjuangkan perutnya sendiri, adik yang sering minta bantuan tapi tak pernah mengucapkan terima kasih, pembantu yang membohongi kita, maupun bos yang pelitnya luar biasa. Kita mungkin berpikir bahwa orang-orang tak tahu diri ini sudah sepantasnya kita benci. Tapi kita lupa bahwa kebencian yang kita simpan hanyalah merugikan kita sendiri.
Penelitian menunjukkan ketidakrelaan memaafkan orang lain memiliki dampak hebat terhadap tubuh kita: menciptakan ketegangan, mempengaruhi sirkulasi darah dan sistem kekebalan, meningkatkan tekanan jantung, otak dan setiap organ dalam tubuh kita. Kemarahan yang terpendam mengakibatkan berbagai penyakit seperti pusing, sakit punggung, leher, dan perut, depresi, kurang energi, cemas, tak bisa tidur, ketakutan, dan tak bahagia.Baru-baru ini saya sempat berinteraksi dengan sekelompok mahasiswa yang mengeluhkan perasaan tertekan dan tak bahagia.
Ternyata, kebanyakan dari mereka memendam berbagai kemarahan, baik kepada orang tua maupun orang-orang di sekitar mereka. Salah seorang mengaku telah 10 tahun memendam kebencian kepada wanita yang menjadi istri kedua ayahnya. Si ayah yang dijuluki orang paling sholeh di kantornya tanpa diduga mempunyai ''simpanan.'' Wanita ini kemudian dinikahinya, dan akhirnya meninggal karena stroke lima tahun lalu. Tapi, kemarahan dan kebencian si anak hingga kini belum juga mereda.
Musuh kita sebenarnya bukanlah orang yang membenci kita tetapi orang yang kita benci. Ada cerita mengenai seorang lelaki bekas tapol di zaman Orde Baru yang mengunjungi kawannya sesama eks tapol. Sambil mengobrol si kawan bertanya, ''Apakah kamu sudah melupakan rezim Orde Baru?'' Jawabnya, ''Ya, sudah.'' Si kawan kemudian berkata, ''Saya belum. Saya masih sangat membenci mereka.'' Lelaki itu tertawa kecil dan berkata, ''Kalau begitu, mereka masih memenjara dirimu.''
Untuk mencapai kebahagiaan, kita perlu mengubah cara pandang kita. Sumber kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri, bukan di luar. Karena itu jangan terlalu memusingkan perilaku orang lain. Sebaliknya, belajarlah memaafkan. Kunci memaafkan adalah memahami ketidaktahuan. Banyak orang yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Kalaupun mereka sengaja melakukannya, itupun karena mereka sebenarnya tak tahu. Mereka tak tahu bahwa kejahatan bukanlah untuk orang lain tetapi untuk mereka sendiri.
Orang yang suka memaki dan bersikap kasar sebenarnya tak menyadari bahwa mereka sedang menzalimi dirinya sendiri. Suatu ketika ia akan kena batunya. Inilah konsekuensi logis dari hukum alam. Mempraktikkan konsep memaafkan akan membuat hidup lebih ringan. Saya ingat, saat sedang duduk menunggu anak saya sekolah pada minggu lalu, seorang ibu yang lewat menubrukkan tasnya yang cukup berat ke kepala saya, tanpa permisi apalagi minta maaf. Orang-orang yang melihat kejadian itu menggeleng-gelengkan kepala sambil mencela kecerobohannya. Saya mencoba mempraktikkan konsep ini, dan langsung memaafkannya. Ibu itu kelihatannya sedang kalut. Tak mungkin ia sengaja menabrak saya begitu saja.
Untuk mencapai kebahagiaan, berikanlah maaf kepada orang lain. Hentikan kebiasaan menyalahkan orang lain. Ingatlah, kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Hanya Allah-lah yang Maha Suci dan Maha Sempurna. Saya menyukai apa yang dikemukakan Gerarld G Jampolsky dalam bukunya Forgiveness, The Greatest Healer of All. ''Rela memaafkan adalah jalan terpendek menuju Tuhan.''
Sumber: Sudahlah, Maafkan Saja! oleh Arvan Pradiansyah - Dosen UI dan pengamat manajemen SDM