![]() |
| Amplop Cokelat yang Tidak Pernah Tersesat Sebuah perjalanan dari Denting Piano menuju Indscript Creative. |
Dari naskah "Denting Piano" yang dikirim ke Majalah Bobo hingga menjadi penulis, editor, dan mentor. Inilah perjalanan saya bersama Indscript Creative yang mengubah mimpi menjadi inspirasi.
"Ada mimpi yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya diam, menunggu kita cukup berani untuk memanggilnya kembali."
Saya tidak ingat kapan pertama kali jatuh cinta pada dunia menulis, tetapi saya ingat, sejak kecil saya sangat suka menuliskan cerita.
Sekitar tahun 1989, saat itu saya berusia delapan atau sembilan tahun. Saya duduk di depan sebuah mesin ketik dan mulai mengetik sebuah cerita pendek pertama saya dengan judul: Denting Piano.
Saat ini saya tidak lagi mengingat seluruh isi ceritanya. Namun, saya masih mengingat setiap prosesnya. Suara tuts mesin ketik yang ditekan oleh jemari kecil saya dan lembar demi lembar kertas yang saya lipat sendiri dengan hati-hati.
Amplop cokelat yang saya rekatkan dengan penuh harapan. Lalu tulisan tangan kecil saya yang berusaha menyalin alamat tujuan.
Redaksi Majalah Bobo. PO BOX...
Saat itu belum ada internet.
Belum ada email.
Belum ada tombol submit.
Kalau ingin mengirimkan sebuah cerita, kita benar-benar harus mempercayakannya kepada kantor pos.
Dan saya melakukannya sendirian. Tidak ada yang mendampingi. Tidak ada yang mengetahui...
Bahkan hingga hari ini, saya rasa tidak ada seorang pun yang tahu bahwa seorang anak perempuan pernah diam-diam mengirimkan naskah pertamanya ke sebuah majalah anak-anak.
Saya memang lebih banyak tumbuh bersama nenek daripada kedua orang tua. Mungkin karena itulah saya sudah terbiasa melakukan banyak hal sendirian. Termasuk menjaga mimpi saya sendiri melalu menulis dan menggambar. Dua kegiatan itu menjadi ruang kecil yang selalu saya miliki. Tempat saya bisa menjadi diri sendiri tanpa harus menunggu siapa pun percaya bahwa mimpi itu layak diperjuangkan.
Hari ini, ketika mengingat kembali peristiwa itu, saya baru menyadari satu hal.
Ternyata, amplop cokelat itu tidak pernah tersesat.
Ia hanya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk sampai ke tujuan yang sebenarnya.
![]() |
| Blogger 2005 |
Ternyata, Mimpi Tidak Pernah Benar-Benar Hilang
Waktu terus berjalan. Saya pun bertumbuh menjalani masa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Menulis puisi-puisi pendek ketika SMA, lalu sibuk menjalani berbagai peran sebagai perempuan, istri, ibu, dan pekerja.
Namun ternyata, tulisan tidak pernah benar-benar meninggalkan saya. Ketika internet mulai menjadi bagian dari kehidupan, saya menemukan rumah kecil berikutnya.
Sebelum mengenal Blogger, saya aktif menulis di Multiply, sebuah platform yang pada masanya menjadi ruang favorit banyak orang untuk berbagi cerita. Ketika Multiply akhirnya berhenti beroperasi, saya pun berpindah ke Blogger dan terus menulis hingga hari ini.
Tanggal 22 Juni 2005. Yak, tanggal ini menjadi salah satu tanggal yang sangat berarti dalam perjalanan saya. Hari itu saya menekan tombol Publish untuk pertama kalinya di blog pribadi.
Sapaan pembuka yang saya tulis sangat sederhana.
"Hi... welcome to my blog..."
Saya hanya ingin berbagi cerita. Tentang keluarga kecil saya, tentang menjadi seorang ibu, tentang anak-anak, tentang pekerjaan, tentang kehidupan sehari-hari yang mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tetapi terasa begitu berharga bagi saya.
Saat itu saya tidak sedang membangun personal branding maupun mengejar jumlah pembaca. Saya hanya ingin menyimpan cerita.
Baru hari ini saya menyadari bahwa tulisan-tulisan sederhana itu diam-diam sedang menempa saya menjadi seorang blogger.
Lebih dari itu... Tulisan sedang diam-diam menyiapkan masa depan saya.
Saya juga mulai aktif menulis berbagai artikel dan mengikuti puluhan buku antologi. Tanpa saya sadari, setiap tulisan yang saya buat adalah latihan kecil yang mempersiapkan saya untuk perjalanan yang jauh lebih besar.
Dulu saya mengira saya hanya sedang menulis catatan harian, tetapi hari ini saya sadar, ternyata saya sedang menulis jejak perjalanan hidup.
![]() |
| I Love My Job |
Ketika Menulis Menemukan Jalan Pulang
Tahun 2018 menjadi salah satu titik balik terbesar dalam hidup saya.
Menariknya, jalan yang saya pilih bukan langsung menjadi penulis. Saya justru jatuh cinta pada dunia editing naskah.
Terlahir dari rasa penasaran saya tentang bagaimana sebuah tulisan dipoles tanpa menghilangkan suara penulisnya. Tentang bagaimana sebuah ide yang masih mentah bisa berubah menjadi buku yang layak dibaca banyak orang.
Buku pertama yang saya edit berjudul Indigo Mencari Tuhan karya Sunarto W. Samudro.
Saya belum tahu bahwa satu naskah tersebut akan membuka pintu menuju perjalanan panjang yang mengubah hidup saya. Namun, semakin banyak belajar, saya semakin memahami bahwa dunia literasi bukan hanya tentang penulis. Di balik sebuah buku ada editor, proofreader, desainer, layouter, hingga penerbit yang bekerja dengan sepenuh hati agar sebuah gagasan dapat sampai kepada pembaca dalam bentuk terbaiknya.
![]() |
| Bersama Teh Indari Mastuti - Founder Indscript Creative |
Rumah Itu Bernama Indscript Creative
Sekitar tahun 2019, saya mulai mengenal Indscript Creative.
Awalnya sederhana. Saya hanya ingin belajar bisnis.
Saya mengenal sosok Indari Mastuti sebagai penulis sekaligus pebisnis kreatif yang telah lama berkecimpung di dunia literasi. Dan saya pun berpikir, mungkin saya bisa belajar bagaimana membangun sebuah usaha yang bertumbuh. Namun ternyata saya menemukan sesuatu yang jauh lebih besar. Saya merasa seperti menemukan rumah yang bahkan sebelumnya tidak saya sadari sedang saya cari.
Di Indscript Creative, saya melihat bahwa dunia literasi tidak dibangun dengan semangat saling bersaing, tetapi saling bertumbuh. Terlebih lagi dengan luasnya bisnis Indscript, termasuk jasa penulisan penulisan buku, agensi copywriting, jasa konten website, hingga penerbitan buku indie. Penulis, editor, blogger, copywriter, hingga berbagai profesi kreatif seperti ghostwriter profesional, dipertemukan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Saya benar-benar merasakan arti sebuah komunitas penulis perempuan yang tidak hanya berbagi ilmu, tetapi juga membuka peluang bagi anggotanya untuk berkembang.
Kesempatan pertama saya datang melalui program One Day One Article (ODOA) dan saya mengikutinya tanpa ekspektasi berlebihan, hanya ingin menulis sebaik dan sekonsisten mungkin.
Alhamdulillah, saya dipercaya menjadi Blogger Terbaik.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya sebuah penghargaan. Namun bagi saya, penghargaan itu terasa seperti jawaban atas doa seorang anak kecil yang pernah diam-diam mengirimkan naskah ke Majalah Bobo.
Seolah semesta sedang berbisik,
"Mimpimu belum terlambat."
Pengalaman tersebut pun membuka begitu banyak kesempatan bagi saya.
Saya mulai dipercaya mengerjakan berbagai proyek artikel melalui agensi penulis Indscript. Saya pun belajar bahwa tulisan bukan hanya mampu menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kepercayaan dan menggerakkan orang untuk peduli pada sebuah isu.
Perjalanan itu pun terus berkembang. Saya dipercaya menjadi editor berbagai buku antologi, naskah imiah, menjadi asisten Teh Indari Mastuti berbagi ilmu kepada penulis lewat kelas privat dan bahkan mengedit naskah buku tulisan Teh Indari Mastuti yang akan terbit.
Setiap naskah selalu mengajarkan hal yang sama: bahwa editor bukanlah orang yang mengubah suara penulis. Editor adalah orang yang membantu suara itu terdengar lebih jernih.
Saya juga mengikuti berbagai kelas menulis Indscript yang memperkaya wawasan serta kepercayaan diri saya. Bukan hanya sebagai penulis, tetapi juga sebagai editor, mentor, dan pelaku industri kreatif. Salah satu kelas menulis Indscript yang saya ikuti adalah kelas menulis buku biografi di mana Teh Indari Mastuti yang telah lama berkecimpung dalam jasa tulis biografi secara langsung membagikan ilmunya dengan rinci kepada para peserta.
![]() |
| From Writing to Inspiring |
Dari Menulis Menjadi Menginspirasi
Kalau dulu saya membantu orang lain melahirkan buku-bukunya, perlahan saya juga belajar melahirkan buku saya sendiri.
Pada Oktober 2020, saya menerbitkan novelet duet pertama berjudul Cinta Dua Dimensi bersama Sunarto W. Samudro.
Buku itu terasa sangat istimewa.
Bukan semata karena akhirnya nama saya tercetak sebagai penulis, tetapi karena saya menyadari bahwa perjalanan saya telah berputar begitu jauh.
Dulu saya membantu memperbaiki naskah orang lain, tetapi kini saya juga belajar mempercayakan cerita saya sendiri kepada pembaca.
Setahun kemudian lahirlah Emak Berbisnis, sebuah buku yang saya tulis sebagai panduan sederhana bagi perempuan yang ingin memulai usaha dari rumah atau dari mana pun mereka berada.
Saya percaya bahwa perempuan tidak harus menunggu keadaan sempurna untuk mulai berkarya dan semangat ini saya dapatkan dari Teh Indari Mastuti sebagai wanita yang sangat menginspirasi saya baik dalam dunia literasi maupun dunia bisnis.
Tahun 2023, saya memilih membuka halaman yang lebih personal melalui Dear You, sebuah karya bergenre faksi yang berisi serpihan pengalaman hidup saya sendiri. Menulis buku Dear You seperti berdamai dengan masa lalu, kemudian lahirlah sisi lain dalam diri saya.
Saya kembali menikmati dunia fiksi melalui serial novel romansa remaja Yoda–Harum.
Hug Me terbit pada Januari 2024, disusul Kiss Me pada Mei 2025. Dan saat artikel ini saya tulis, seri ketiganya masih dalam proses penyelesaian.
Pada April 2026 lalu, saya juga menerbitkan Me and Pras: Perjalanan Spiritual dan Penyembuhan sebuah buku yang lahir dari perjalanan cinta, penyembuhan, dan pertumbuhan yang saya alami bersama pasangan saya.
Sampai hari ini saya juga telah menulis puluhan buku antologi dan ratusan artikel di berbagai media.
Melihat deretan karya itu hari ini, saya sering tersenyum sendiri.
Karena semuanya berawal dari seorang anak perempuan yang dulu mengetik cerita berjudul Denting Piano.
![]() |
| Me and Me 💓 |
Amplop Cokelat Itu Akhirnya Sampai
Banyak orang bertanya kepada saya tentang cara menulis buku untuk pemula dan dulu mungkin saya akan menjawab dengan teknik, struktur, atau langkah-langkah praktis.
Hari ini jawaban saya jauh lebih sederhana, sebagaimana yang selalu dikatakan juga oleh Teh Indari Mastuti: "Mulailah dari satu kalimat, lalu lanjutkan".
Karena saya pernah menjadi anak kecil yang hanya memiliki sebuah mesin ketik, selembar kertas, amplop cokelat, dan keberanian untuk mengirimkan sebuah cerita.
Saya tidak pernah membayangkan bahwa puluhan tahun kemudian saya akan menjadi blogger, editor, penulis, mentor, sekaligus bertemu begitu banyak orang baik dan hebat melalui Indscript Creative.
Kadang saya membayangkan...
Bagaimana jika suatu hari saya bisa kembali bertemu dengan anak perempuan berusia delapan tahun yang sedang sibuk mengetik Denting Piano di depan mesin ketik tua itu.
Saya pasti tidak akan mengatakan bahwa hidupnya akan selalu mudah. Karena memang tidak! Saya juga tidak akan mengatakan bahwa semua mimpinya akan segera terwujud. Karena itu pun tidak!
Saya hanya ingin memeluknya pelan, lalu berkata,
"Terima kasih karena sudah berani mengirimkan cerita itu."
"Terima kasih karena tidak berhenti menulis, meski sering merasa berjalan sendirian."
"Terima kasih karena tetap percaya bahwa kata-kata memiliki arti."
Karena tanpa keberanian kecilmu hari itu... tidak akan ada blog yang bertahan lebih dari dua puluh tahun. Tidak akan ada puluhan buku antologi dan ratusan artikel. Tidak akan ada Cinta Dua Dimensi, Emak Berbisnis, Dear You, serial Yoda–Harum, ataupun Me and Pras.
Dan bahkan mungkin...
Saya tidak akan pernah menemukan rumah yang bernama Indscript Creative.
Hari ini saya percaya, tema Milad ke-19 Indscript Creative, "From Writing to Inspiring", bukan sekadar slogan. Ia adalah perjalanan. Perjalanan seorang anak perempuan yang pernah mengirimkan mimpinya melalui sebuah amplop cokelat.
![]() |
| Mungkin beginilah bentuk amplop yang dulu saya kirim |
Amplop itu tidak hanya mengirim sebuah cerita.
Ia sedang mengirimkan masa depan saya sendiri.
"Terima kasih sudah berjalan bersama saya hingga akhir cerita. Mungkin, setiap mimpi memang memiliki waktunya sendiri untuk sampai."



.png)

.png)






.jpg)
.jpg)
.jpg)

























