 |
| Ayam beku dan tragedi jempol biru. (Sumber: dokpri) |
Beberapa hari yang lalu, saya mengalami sebuah kisah yang lawak, tetapi menyakitkan.
Sungguh.
Kalau sekarang diceritakan memang lucu. Tapi saat kejadiannya? Tidak ada lucu-lucunya sama sekali. 😭
Kejadiannya bermula saat saya dan Pras sedang berbelanja di O!Save.
Setelah memilah dan meletakkan barang-barang yang kami butuhkan ke dalam keranjang, tibalah saya di bagian frozen food. Saya hendak mengambil nugget, sosis, dan ayam beku.
Di depan rak ayam, terlihat seorang ibu berkerudung syar'i sedang galau memilih ayam.
Diambil.
Dilihat.
Diletakkan lagi.
Ambil yang lain.
Diletakkan lagi.
Begitu terus beberapa kali.
Saya pun berdiri di belakangnya sambil menunggu dengan sabar karena saya juga ingin mengambil ayam.
Sampai akhirnya, mungkin ibu itu menyadari ada seseorang di belakangnya. Ia sedikit kaget, lalu secara tidak sengaja mundur.
Bruk!
Tubuhnya menabrak saya.
Dan ayam beku yang sedang dipegangnya terlepas dari tangan.
Jatuh.
Tepat.
Di atas.
JEMPOL KAKI KANAN SAYA!
Astaga.
Reaksi saya hanya bisa bengong.
Bagaimana tidak?
Ada sebongkah ayam beku yang kerasnya sudah hampir setara batu, beratnya kira-kira satu kilogram, menghantam jempol kaki saya.
 |
| Jempol kaki yang memar 😂 |
Ibu itu langsung meminta maaf. Saya hanya mengangguk karena otak saya masih sibuk mencerna:
"Tadi… ayam… jatuh… ke kaki saya?"
Ibu tersebut kemudian langsung pergi mengantre di kasir.
Sementara saya masih berdiri di sana sambil menatap jempol kaki.
Awalnya tidak terasa apa-apa.
Tapi beberapa detik kemudian…
NYUT!
Barulah rasa sakitnya datang.
Dan ternyata sakitnya tidak main-main.
Sambil meringis, saya tetap mengambil ayam yang tadi ingin saya beli.
Mau memilih yang mana lagi?
Toh semuanya sama saja.
Sama-sama dingin.
Sama-sama keras.
Sama-sama beku.
Sama seperti hati orang yang sedang terluka.
Huhuhu. 😭
Setelah itu saya berjalan tertatih menuju kasir, tempat Pras sudah lebih dulu mengantre bersama keranjang belanjaan.
Begitu melihat saya, dia langsung memperhatikan cara saya berjalan.
Saya pun berkata,
"Kakiku ketiban ayam beku, Yang. It hurt so much."
Sambil menunjuk jempol kaki kanan saya.
Dengan wajah lucunya, Pras malah berusaha menyenggol jempol kaki saya menggunakan jempol kakinya.
Sontak saya meringis.
"Apaan sih?! Sakit, kan, kesenggol!" protes saya.
Dia malah nyengir.
"Cuma cek saja. Kalau nggak kebas, berarti masih aman dong."
Sambil tertawa kecil.
Saya langsung melotot.
"Ngecek kok begitu sih caranya? Jahat ih!"
Iya.
Di saat jempol saya sedang mengalami tragedi nasional, pasangan malah melakukan uji kelayakan jempol dengan jempolnya sendiri.
😭
Semakin lama, rasa nyerinya semakin hebat.
Sampai akhirnya saya tidak kuasa menahan air mata.
Setelah selesai membayar, saya berjalan tertatih sambil digandeng Pras.
Tak lama kemudian, ibu yang tadi menyebabkan tragedi ayam beku itu kebetulan lewat di dekat kami.
Saya langsung menyenggol Pras.
"Itu tadi ibu-ibu yang jatuhin ayam ke jempolku..."
Dan entah kenapa, setelah mengatakan itu, air mata saya malah semakin deras.
Saat hendak turun dari teras O!Save menuju motor, saya bahkan sampai terhenti di anak tangga.
Jempol saya semakin nyeri.
Air mata semakin banyak.
Pras yang melihat saya akhirnya memutar motor dan mendekatkannya ke tangga. Ia turun, lalu memapah saya naik ke motor.
Saya menangis kejer.
Malu juga sebenarnya karena menangis hanya gara-gara jempol ketiban ayam.
Akhirnya saya membenamkan wajah ke punggung Pras.
Sampai di rumah, masalah baru muncul.
Kami tinggal di lantai dua.
Saya berdiri di depan tangga.
Mematung.
Melihat sekitar sepuluh anak tangga di depan mata.
Dan saya sadar…
Saya tidak sanggup naik.
Pras segera turun dari motor, membawa belanjaan naik ke atas, lalu turun kembali.
Saya pikir dia akan memapah saya naik.
Ternyata…
TIDAK.
Dia malah menggendong saya.
Naik.
Sepuluh.
Anak.
Tangga.
Sambil menggendong wanita tercintanya yang menangis karena jempolnya baru saja dihantam ayam beku.
Sungguh luar biasa. 😂
Kami berdua bahkan tertawa di tengah situasi itu.
Sampai Pras berkata,
"Berhenti ketawa atau kita jatuh bareng di tangga!"
Katanya sambil menahan tawa.
Saya pun tetap menangis dalam tawa.
Begitu sampai di rumah, anak-anak melihat saya masih digendong.
Saya berkata,
"Kak, tolong lepaskan sendalnya."
Tidak ada yang bergerak.
Mereka semua mengira kami sedang bercanda.
Maklum.
Mungkin pemandangannya memang seperti ibu sedang manja-manjaan minta digendong ayahnya.
Akhirnya saya berkata,
"Hei! This isn't joking, guys!"
Barulah mereka datang menghampiri.
Dan ketika melihat saya benar-benar menangis kejer dalam tawa, mereka langsung tahu bahwa telah terjadi sesuatu.
Begitu mendengar cerita sebenarnya?
Pecahlah tawa satu rumah.
Tidak henti-hentinya mereka menertawakan kisah jempol yang tertimpa ayam.
Hana bahkan berkata,
"Kenapa nggak nangis raung-raung aja sih di sana? Biar ibu itu ganti rugi. Minimal minta gratis ayam, hahaha!"
Arya tidak mau kalah.
Dia langsung memperagakan adegan duduk di lantai sambil memegang kaki.
"Aduuhhh… sakiiit… jempolnyaaa…"
Dan kami semua akhirnya tertawa terbahak-bahak.
Begitulah.
Satu keluarga menertawakan penderitaan satu jempol.
😭😂
Malam itu saya bahkan sempat minum obat pereda nyeri karena rasa sakitnya benar-benar tidak tertahankan. Merendam kaki dengan air hangat serta mengoleskan salep untuk memar dari dokter klinik BNN.
Dan keesokan lusa, karena Kak Hana yang sedang magang di kantor saya di BNN dan jadwal tiap Jumatnya WFH, saya terpaksa berangkat kerja naik TJ.
Nah, di sinilah babak kedua tragedi jempol dimulai.
 |
| Penuhnya Trans Jakarta pagi hari (Sumber: Kumparan) |
TJ penuh.
Penuh sekali.
Saya langsung waswas.
Bukan karena takut terlambat.
Bukan pula karena takut tidak kebagian tempat.
Saya takut…
JEMPOL SAYA DIINJAK ORANG!
Sepanjang perjalanan, saya beberapa kali berusaha menghindari kaki-kaki orang yang berpotensi menyerempet jempol kanan saya.
Ada kaki ke kiri, saya menghindar.
Ada kaki ke kanan, saya mundur.
Ada orang bergeser sedikit…
Saya langsung panik.
"Jangan jempol saya… jangan jempol saya…"
Hahaha.
Alhamdulillah, akhirnya saya tiba di kantor dengan selamat.
Jempol aman.
Tidak ada tragedi lanjutan, dan Alhamdulillah, saat tulisan ini dibuat perlahan jempol kanan saya mulai membaik. Memarnya pun berkurang.
Dan sekarang, kalau mengingat kejadian itu, saya malah tertawa sendiri.
Ternyata hidup memang kadang punya cara yang aneh untuk menghibur kita.
Bukan lewat liburan.
Bukan lewat hadiah.
Bukan pula lewat kejutan manis.
Tapi lewat…
ayam beku seberat satu kilogram yang jatuh tepat ke jempol kaki.
😂😂😂
Sungguh pengalaman yang seru dan lucu.
Walaupun… jempol saya mungkin tidak setuju kalau kejadian ini disebut lucu.
Di tengah hidup yang memang kadang sudah seperti panggung komedi, saya belajar satu hal:
Kalau hidup sedang menyakitkan, setidaknya pastikan kita masih bisa menertawakannya setelah rasa sakitnya reda.
Tapi kalau ada yang mau membeli ayam beku setelah membaca cerita ini…
Tolong hati-hati.
Jangan sampai ayamnya menyerang jempol kalian juga. 😭😂